Sabtu, 24 Mei 2025

Periode Awal Kenabian Nabi Muhammad SAW

 

Pahit Getir di Balik Turunnya Wahyu: Perjalanan Awal Kenabian Rasulullah Saw.

Perjalanan kenabian Nabi Muhammad ﷺ bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Ia adalah fase demi fase yang penuh persiapan, ujian batin, dan penguatan dari Allah SWT. Turunnya wahyu merupakan titik awal perubahan besar dalam sejarah umat manusia. Namun, sebelum wahyu turun secara berkelanjutan, Rasulullah ﷺ harus melalui proses panjang yang penuh perenungan, kesendirian, dan bahkan rasa duka yang mendalam.

Berikut tiga fase penting dalam proses turunnya wahyu yang dialami Nabi Muhammad ﷺ:


Fase Pertama: Mimpi Kenabian

Sebelum wahyu pertama turun, Allah mempersiapkan Rasulullah ﷺ secara spiritual. Fase awal ini dimulai dengan datangnya mimpi-mimpi yang benara. Dalam  Shahih al-Bukhari, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها أن الحارث بن هشام سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: يا رسول الله، كيف يأتيك الوحي؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم
ثم ذكرت:
"أول ما بُدِئ به رسول الله صلى الله عليه وسلم من الوحي الرؤيا الصالحة في النوم، فكان لا يرى رؤيا إلا جاءت مثل فلق الصبح..."


"Awal mula wahyu yang datang kepada Rasulullah ﷺ adalah mimpi yang benar dalam tidur. Tidaklah beliau bermimpi melainkan datang seperti cahaya fajar pagi."

Selama enam bulan, Rasulullah ﷺ mengalami mimpi yang terbukti kebenarannya. Mimpi-mimpi tersebut merupakan bagian dari wahyu yang Allah turunkan sebagai pembuka kenabian. Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa tidaklah Rasulullah ﷺ bermimpi kecuali datang seperti cahaya fajar pagi terang dan pasti kebenarannya.

Imam an-Nawawi dalam syarhnya terhadap Shahih Muslim menjelaskan bahwa mimpi yang benar termasuk bagian dari wahyu, sebagaimana dialami oleh para nabi terdahulu. Dalam kitab At-Tibyān fī ʿUlūm al-Qurʾān, Imam Ali Ashobuni juga menyebutkan bahwa selama masa ini, mimpi-mimpi Nabi ﷺ selalu terjadi sesuai dengan kenyataan. Artinya, apa yang beliau lihat dalam tidur, benar-benar terjadi sebagaimana yang beliau lihat, tanpa ada selisih sedikit pun antara mimpi dan realitas.

Hal ini berlangsung selama enam bulan, dan para ulama menyebut bahwa masa tersebut merupakan bagian dari proses kenabian, karena mimpi yang benar (ru’yā ṣādiqah) merupakan satu dari enam puluh bagian kenabian   (جزء من ستة وأربعين جزءاً من النبوة). yang mana hal ini menjadi tanda awal bahwa beliau akan menerima tugas kenabian. Dalam waktu yang bersamaan, beliau mulai menyendiri di Gua Hira, bertafakur, menjauhi hiruk-pikuk kota Makkah yang penuh kesyirikan.


Fase Kedua: Turunnya Wahyu Pertama dan Fatrah al-Wahyi (Terhentinya Wahyu)

Puncak dari fase awal ini terjadi ketika Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah ﷺ di Gua Hira dan menyampaikan wahyu pertama dari surat Al-‘Alaq: 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan…” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Pengalaman ini sangat mengejutkan Nabi ﷺ. Tubuh beliau menggigil, dan beliau segera kembali kepada istrinya, Khadijah radhiyallahu ‘anha, seraya berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!”

Namun setelah peristiwa besar itu, wahyu tidak langsung turun secara rutin. Terjadi masa jeda yang dikenal dengan fatrat al-wahyi, yaitu masa terhentinya wahyu. Para ulama berbeda pendapat tentang durasinya di dalam kitab Al-Rawd al-Anf fi Sharh al-Sirah al-Nabawiyyah di sebutkan:

  • Dalam beberapa hadis yang memiliki sanad kuat disebutkan bahwa masa fatrah bisa mencapai dua setengah tahun.

  • Anas bin Malik mengatakan bahwa masa tinggal Nabi ﷺ di Makkah sebelum wahyu turun selama sepuluh tahun.

  • Sedangkan Ibn Abbas menyebutkan masa fatrah tersebut adalah tiga belas tahun, dengan awal kenabian dimulai dari enam bulan mimpi yang benar.

  • Jika masa fatrah ditambahkan dengan enam bulan mimpi tersebut, maka totalnya menjadi sama seperti yang dikatakan Ibn Abbas.

Dari sudut lain, jika dihitung mulai dari saat wahyu turun secara rutin dan berkelanjutan, seperti yang disebutkan dalam hadis Jabir, masa fatrah itu berlangsung selama sepuluh tahun.

Selama masa ini, Rasulullah ﷺ merasa sangat gelisah dan bersedih bahkan sangking sedihnya bahkan ingin menjatuhkan diri dari puncak gunung. Dalam riwayat Shahih Bukhari disebutkan bahwa:   

عن عائشة أم المؤمنين رضى الله عنها، وساق الحديث بنحو ما تقدّم، قال: وفتر الوحى فترة حتى حزن النبى ﷺ فيما بلغنا حزنا غدا منه مراراكى يتردّى من رءوس شواهق الجبال، فكلما أوفى بذروة جبل لكى يلقى نفسه منه تبدّى له جبريل فقال: يا محمد إنك رسول الله حقا، فيسكن لذلك جأشه، وتقرّ نفسه فيرجع، فإذا طالت عليه فترة الوحى غدا لمثل ذلك، فإذا أوفى بذروة جبل تبدّى له جبريل وقال له مثل ذلك. قال: وتكلم المشركون عند فترة الوحى بكلام، فأنزل الله تعالى على رسوله ﷺ:

“Wahyu terhenti untuk suatu masa, sampai Nabi ﷺ bersedih seperti yang sampai kepada kami sedih yang dalam hingga beliau beberapa kali ingin menjatuhkan dirinya dari puncak-puncak gunung yang tinggi. Setiap kali beliau mencapai puncak gunung hendak melemparkan dirinya, tiba-tiba Jibril menampakkan diri dan berkata: ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau benar-benar utusan Allah.’ Karena itu, hati beliau menjadi tenang dan jiwanya tenteram, lalu beliau kembali. Apabila masa terhentinya wahyu itu memanjang, beliau kembali mengulangi hal yang sama. Setiap kali beliau hendak menjatuhkan diri, Jibril kembali menampakkan diri dan mengucapkan hal yang sama.”

Kaum musyrik pun mulai mencemooh Nabi ﷺ, mengatakan bahwa Tuhannya telah meninggalkannya. Namun semua itu adalah bagian dari proses peneguhan hati seorang nabi.


Fase Ketiga: Wahyu Kembali Turun dan Penguatan Ilahi

Setelah masa ujian dan kesedihan itu, Allah SWT kembali menurunkan wahyu kepada Rasulullah ﷺ sebagai bentuk kasih sayang dan penguatan. Di antara wahyu yang turun adalah Surah ad-Dhuha: 

وَالضُّحٰىۙ. وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ. مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰ

"Demi waktu dhuha. Dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad), dan tidak (pula) membencimu." (QS. Ad-Dhuha: 1–3)

Wahyu ini menjadi jawaban atas bisikan kaum musyrik, sekaligus mengangkat kembali semangat Rasulullah ﷺ. Setelah itu, wahyu pun mulai turun secara berkelanjutan, menandai dimulainya dakwah Islam yang membawa perubahan besar dalam peradaban manusia.

Penutup

Perjalanan Rasulullah ﷺ dalam menerima wahyu bukanlah kisah yang ringan. Ia adalah kisah perjuangan jiwa, bukti cinta seorang hamba kepada Tuhannya, dan ujian berat dalam menerima risalah ilahiyah. Dari mimpi-mimpi yang benar, keterkejutan menerima wahyu pertama, hingga masa kehampaan yang menyedihkan semuanya mengajarkan kita bahwa wahyu dan petunjuk dari Allah datang dengan hikmah dan waktu yang paling tepat.

Kita sebagai umatnya, seharusnya meneladani kesabaran dan keteguhan beliau dalam menghadapi ujian, serta menjadikan fase-fase awal kenabian ini sebagai pelajaran spiritual untuk selalu bersandar kepada Allah, terutama apabila di saat-saat sunyi dan gundah.




kajian sabtu pagi pada 24 mei 2025

pemateri dan notulensi oleh Achmad Riefqy An nabawy mahasiswa IAT semester 6.

kritik dan saran  di alamat Gmail rfqynbwyx@gmail.com 


1 komentar:

Laga Seru Futsal: IAT VS EASY di Lapangan Futsal Saygon

     Saygon, 29 Juni 2025 — Suasana panas terasa di Lapangan Futsal Saygon pada Sabtu siang, 29 Juni 2025, ketika dua jurusan unggulan, Ilmu...